Multilingual Folk Tale Database


Rotkäppchen (Jacob & Wilhelm Grimm)

Si Kerudung Merah Capuchinho Vermelho
unknown author unknown author
Indonesian Portuguese

Pada suatu masa hiduplah seorang gadis kecil.
Semua orang menyayanginya, terutama neneknya.
Tak ada sesuatu pun yang tak ingin diberikan Nenek kepadanya,
Pada suatu hari Neneknya memberinya tudung beludru berwarna merah. Gadis kecil itu sangat menyukai tudungnya, dan ia hanya mau mengenakan tudung itu . Karena itulah ia dipanggil " Tudung Merah".
Suatu hari Ibu berkata kepadanya, "Tudung Merah, mari sini. Ini ada sepotong kue dan sebotol anggur, bawalah ke rumah Nenek. Nenek sakit dan tubuhnya lemah, kue dan anggur ini baik untuknya. Berangkatlah sebelum matahari terik, dan berjalanlah pelan dan hati-hati. Jangan meninggalkan jalan setapak, kalau tidak kau akan jatuh dan botolnya pecah, dan Nenek tidak akan mendapat apa-apa. Dan waktu kau masuk ke dalam kamarnya, jangan lupa berkata, "Selamat pagi", dan jangan berkeliaran di kamarnya sebelum kau menyapanya."
"Aku akan berhati-hati ,Bu," Tudung Merah berjanji pada ibunya.
Nenek Tudung Merah tinggal di dalam hutan,jauhnya tiga kilometer dari desa. Ketika Tudung Merah memasuki hutan, Serigala menghampirinya. Tudung Merah tidak tahu serigala itu sangat jahat, dan ia tidak takut pada hewan itu.
"Selamat Pagi,Tudung Merah," Serigala berkata.
"Selamat Pagi, Serigala yang baik."
"Mau kemanakah Kau pagi-pagi begini,Tudung Merah?"
"Ke rumah Nenek."
'Apa itu di dalam celemek mu?"
"Kue dan anggur. Kemarin Ibu memasak kue untuk Nenek, supaya tubuh Nenek lebih segar."
"Dimanakah nenekmu tinggal, Tudung Merah?"
"Tiga kilometer di dalam hutan. Rumahnya terletak di bawah tiga pohon ek besar-besar, dan ada pepohonan kacang tepat di dekatnya, Kau pasti tahu," sahut Tudung Merah.
Serigala itu berpikir."Betapa empuk gadis kecil ini! Betapa lezat, dia lebih enak di makan daripada neneknya. Aku harus pintar,sehingga bisa memangsa keduanya."
Setelah berjalan sebentar bersama Tudung Merah, Serigala berkata," Lihatlah Tudung Merah,betapa indahnya bunga-bunga di sini, tidakkah kau ingin menikmatinya dulu? Aku juga yakin Kau tidak mendengar betapa merdu kicauan burung-burung. Kau terus berjalan di jalan setapak, seolah kau sedang berangkat ke sekolah, padahal segala sesuatu di hutan ini teramat indah."
Tudung Merah menengadah ke langit. Ketika dilihatnya cahaya matahari menari-nari, di antara dedaunan, dan bunga yang cantik-cantik tumbuh di mana-mana, ia pun berpikir."Akan kubawakan Nenek bunga yang cantik-cantik. Dia pasti senang sekali. Sekarang masih pagi dan aku akan tiba di sana sebelum siang." Tudung Merah berlari meninggalkan jalan setapak lari masuk ke hutan mencari bunga-bunga. Setiap kali memetik sekuntum ia selalu melihat yang lebih indah lagi, terus seperti itu, sampai akhirnya ia semakin jauh dan semakin jauh ditelan hutan.
Sementara itu Serigala berlari ke rumah Nenek dan mengetuk pintu.
"Siapa itu?"
"Tudung Merah," sahut Serigala. "Aku membawa kue dan anggur. Buka pintunya."
"Angkat pegangan pintunya." seru Nenek. "Aku terlalu lemah dan tidak bisa bangun."
Serigala mengangkat pegangan pintu. Pintu terbuka. Serigala menghampiri tempat tidur dan menelan Nenek. Setelah itu ia mengenakan pakaian dan topi Nenek, lalu berbaring di tempat tidur dan menutup kelambu.
Tudung Merah masih sibuk memetik bunga. Ketika tangannya sudah penuh bunga, ia teringat neneknya, dan bergegas melanjutkan perjalanan.
Tudung Merah terkejut melihat pintu rumah Nenek terbuka lebar. Ketika masuk ke kamar Nenek, ia merasa anaeh, katanya, "Oh, perasaanku hari ini sungguh tidak enak, padahal biasanya aku sangat senang bertemu Nenek."
Tudung Merah berseru,"Selamat pagi," namun tak ada yang menjawab seruannya. Ia menghampiri tempat ti dur dan menarik kelambu. Ia melihat Nenek berbaring di sana, topinya di tarik dalam-dalam hingga menutupi wajah. Nenek kelihatan aneh sekali.
"Nenek," kata Tudung Merah. "Telinga Nenek besar sekali!"
"Supaya aku bisa mendengar suaramu lebih jelas, cucuku," jawabnya.
"Tapi, Nek, mata Nenek besar sekali !". Kata Tudung Merah.
""Supaya aku bisa melihatmu lebih jelas sayangku."
"Tapi Nek tangan Nenek besar sekali!"
"Supaya aku bisa gampang menangkapmu!"
Dengan sekali lompatan Serigala turun dari tempat tidur dan menerkam Tudung Merah. Karena kekenyangan,Serigala berbaring dan tidur pulas di temapt tidur Nenek. Ia mendengkur keras sekali. Ketika pemburu berjalan melewati rumah Nenek, ia berkata, "Nenek tua itu dengkurannya keras sekali!" Akan kulihat apakah dia membutuhkan sesutu." Pemburu itu masuk ke rumah Nenek. Ia menghampiri tempat tidur dan menemukan Serigala.
"Akhirnya aku menemukanmu di sini, hewan jahat!"
berkatalah Pemburu. "Sudah lama aku mencari-carimu!" Ketika Pemburu akan menembak Serigala, ia berpikir serigala itu mungkin sudah menelan Nenek. Mungkin saja Nenek masih bisa diselamatkan, pikir Pemburu, jadi ia menurunkan senapanya dan menggunting perut serigala yang tidur lelap itu. Tudung Merah melompat keluar dari perut Serigala seraya berseru "Betapa takutnya aku!" Di dalam perut Serigala sangat gelap." Setelah itu nenek menyusul keluar, nyaris tak bisa bernafas.
Tudung Merah, Nenek, dan Pemburu senang sekali. Nenek makan kue dan minum anggur yang dibawakan Tudung Merah, hingga tubuhnya pun segar kembali. Tudung Merah berjanji pada dirinya sendiri," Aku tidak akan meninggalkan jalan setapak dan masuk ke hutan sendirian, sebab Ibu sudah mengingatkan dan melarangku."

Era uma vez uma doce pequena que tinha o amor de todos os que a viam; mas era a avó quem mais a amava, a ponto de não saber o que mais dar à criança. Uma vez deulhe um capucho de veludo vermelho e, como este lhe ficava tão bem que ela nunca mais quis usar outra coisa, chamaram-lhe simplesmente Capuchinho Vermelho. Um dia disse-lhe a mãe: "Vem cá, Capuchinho Vermelho, aqui tens um pedaço de bolo e uma garrafa de vinho para levares à tua avó. Ela está doente e fraca e isto há-de fortalecê-la. Põe-te ao caminho antes que se ponha quente e, quando estiveres no bosque, vai directa e não te desvies do carreiro, senão ainda cais e partes o vidro e a tua avó não recebe nada. E quando entrares no quarto dela, não te esqueças de dizer bom dia e não te vás pôr a espreitar em todos os cantos."

"Vou fazer tudo bem," prometeu Capuchinho Vermelho dando a sua mão. A avó vivia isolada no bosque, a meia légua da aldeia. Quando Capuchinho Vermelho chegou ao bosque, um lobo veio ao seu encontro. Capuchinho Vermelho não sabia que se tratava dum animal malvado e não teve medo nenhum. "Bom dia, Capuchinho Vermelho," disse ele. "Muito obrigado, lobo." - "Aonde vais tão cedo, Capuchinho Vermelho?" - "À minha avó." - "O que levas debaixo do avental?" - "Bolo e vinho: ontem cozemos, portanto a pobre avó doente vai poder receber algo bom que a fortaleça." - "Capuchinho Vermelho, onde vive a tua avó?" - "Ainda a um bom quarto de légua dentro do bosque, debaixo dos três carvalhos, aí fica a casa dela; logo abaixo ficam as avelaneiras, assim já saberás," disse Capuchinho Vermelho. O lobo pensou para si mesmo: "Que coisa tenra, dará um pitéu suculento. Vai saber ainda melhor que a velha. Tens que agir ardilosamente se queres apanhá-las ambas." Então andou um pouco ao lado de Capuchinho Vermelho e depois falou: "Capuchinho Vermelho, vês as lindas flores por aqui à tua volta? Porque não olhas para elas? Acho que ainda nem reparaste como os passarinhos estão a cantar amorosamente. Andas tão séria, como se fosses para a escola, enquanto que tudo no bosque está tão alegre."

Capuchinho Vermelho levantou os olhos e quando viu como os raios de sol dançavam entre as árvores, para a frente e para trás, e como havia lindas flores por todo o lado, pensou: "Se eu levar à avó um ramo fresco, hei-de dar-lhe alegria. Ainda é tão cedo que chegarei bem a tempo." Então ela saiu do carreiro e entrou no bosque à procura de flores. E cada vez que tinha apanhado uma, pensava que mais longe haveria outra ainda mais bonita e corria a apanhá-la, de tal forma que entrou cada vez mais fundo no bosque. Mas o lobo foi directo para casa da avó e bateu à porta. "Quem está aí?" - "É Capuchinho Vermelho, trazendo bolo e vinho, abre!" - "Levanta o trinco," gritou a avó, "eu estou demasiado fraca para me poder levantar." O lobo levantou o trinco, a porta abriu e ele, sem uma palavra, dirigiu-se à cama da avó e comeu-a. Depois vestiu as roupas e a touca dela, deitou-se na cama e fechou as cortinas.

Entretanto, Capuchinho Vermelho tinha corrido de flor em flor e só quando já tinha tantas que não podia carregar mais é que se lembrou da avó e retomou o caminho para casa dela. Estranhou que a porta estivesse aberta e, quando entrou no quarto, teve uma sensação tão estranha que disse para si própria: "Meu Deus, hoje sinto-me tão angustiada e normalmente gosto tanto de estar com a avó." Largou um "Bom dia!," mas não obteve resposta. Então dirigiu-se à cama e puxou as cortinas para trás: ali estava a avó com a touca puxada sobre a cara e com uma aparência estranha. "Ó! Avó, que grandes orelhas tens!" - "Para poder ouvir-te melhor." - "Ó! Avó, que grandes olhos tens!" - "Para poder ver-te melhor." - "Ó! Avó, que grandes mãos tens!" - "Para poder abraçar-te melhor." - "Mas, avó, que boca horrivelmente grande tens!" - "Para poder comer-te melhor." Mal tinha o lobo dito isto, pulou da cama e engoliu a pobre Capuchinho Vermelho.

E, tendo apaziguado a sua concupiscência, tornou a deitar-se na cama, adormeceu e começou a ressonar muito alto. O caçador estava mesmo a passar em frente da casa e pensou: "Como a velhota ressona! É melhor veres se há algo errado." Então entrou no quarto e, quando chegou à cama, viu o lobo lá estendido. "Aqui te encontro, velho pecador," disse ele, "há muito que te procuro!" Apontou a espingarda, mas então pensou que o lobo podia ter comido a avó e que ela ainda podia ser salva. Portanto, em vez de disparar, pegou numa tesoura e começou a cortar a barriga do lobo. Depois de ter feito um par de cortes viu Capuchinho Vermelho luzir; e após outros tantos cortes a moça saltou para fora, gritando: "Ah, como tive medo! Estava tão escuro dentro do lobo!" Depois a avó saiu, também viva mas quase incapaz de respirar. Entretanto, Capuchinho Vermelho depressa procurou grandes pedras com as quais encheram o lobo. Quando ele acordou quis fugir, mas as pedras eram tão pesadas que caiu subitamente e morreu.

Então os três ficaram muito contentes. O caçador tirou a pele ao lobo e levou-a para casa. A avó comeu o bolo e bebeu o vinho que Capuchinho Vermelho tinha trazido e recuperou forças. Mas Capuchinho Vermelho pensou: "Nunca mais na vida tornarás a sair do caminho sozinha para entrar no bosque depois de a tua mãe o ter proibido."

Também se conta que uma vez, quando Capuchinho Vermelho levava outra vez bolos1 à avó, um outro lobo falou com ela e quis tentá-la a sair do carreiro. Mas desta vez Capuchinho Vermelho estava atenta, seguiu a direito o seu caminho e disse à avó que tinha encontrado o lobo e que este lhe tinha dito "bom dia," mas com uma expressão má nos olhos: "Se eu não estivesse no caminho público, ele ter-me-ia comido." - "Vem," disse a avó, "vamos fechar a porta para que ele não possa entrar." Pouco depois o lobo bateu à porta e gritou: "Abre, avó, eu sou Capuchinho Vermelho e trago-te bolos." Mas elas não falaram nem abriram a porta, por isso o Cabeça Cinzenta deu umas voltas à casa e finalmente pulou para o telhado, querendo esperar que Capuchinho Vermelho se fosse embora à noite para então ir atrás dela e a devorar na escuridão. Gebackenes,isto é, "coisas cozidas no forno." Mas a avó percebeu o que ele tinha em mente. Havia em frente da casa um grande bebedouro de pedra e a avó disse à criança: "Pega no balde, Capuchinho Vermelho. Ontem fiz salsichas, por isso leva a água da cozedura para o bebedouro." Capuchinho Vermelho acartou água até que o grande, grande bebedouro estava completamente cheio. Então o cheiro das salsichas alcançou as narinas do lobo. Este cheirou e olhou para baixo. Finalmente, esticou tanto o pescoço que perdeu o equilíbrio e começou a escorregar. Escorregou então do telhado e caiu dentro do grande bebedouro, onde se afogou. Capuchinho Vermelho foi para casa feliz da vida e mais ninguém lhe fez mal.



Change: Change: